Tentu saja kita semua setuju dengan prinsip dasar sifat Tuhan manakala mendengar
Tuhan adalah Sang Maha Adil
Selama ini kita hanya terbentur oleh "persepsi peradaban" yang tidak mengira bahwa Keadilan Tuhan berada jauh diatas alam nalar manusia. Karenanya
"toleransi" saja tidak cukup, kita harus saling mencintai..
Lalu salah seorang teman ku bertanya : " Apa maksud dari kata "saling mencintai"? Apakah itu juga berarti kita boleh membina hubungan (pacaran/suami-istri) dengan pasangan yang berbeda keyakinan?.. "Lalu aku menjawab : " Iya.. "
Lalu ia bertanya : " Bagaimana dengan ayat yang mengatakan "menikahlah dengan orang yang se-iman (se-agama)" ?.. "
Lalu aku menjawab : " Sesungguhnya ayat tersebut adalah salah satu ayat yang harus diterjemahkan dengan Kecerdasan. Karena sejatinya Islam adalah Kecerdasan. Lalu mengapa ayat tersebut seolah mengelakkan akan prinsip dasar sifat Tuhan tentang Tuhan adalah Maha Adil? Bagiku arti dari se-iman bukanlah berarti se-agama..Satu hal mendasar yang harus kita pahami benar adalah Orang beriman adalah orang yang penuh dengan Kebaikan. Apapun agamanya orang yang beriman adalah orang yang baik. Maka, jika kau orang baik maka menikahlah dengan orang baik, karena jika kau adalah orang baik tapi kau menikah dengan orang jahat maka ada kemungkinan kau akan terbawa arus untuk menjadi orang jahat..
Lalu ia bertanya : " Lalu apakah itu tidak menjadikan kita sebagai orang kafir? Bagaimana jika pasangan kita (yang berbeda tersebut) adalah penyembah berhala? "
Lalu aku menjawab : " Sesungguhnya aku sangat yakin, bahwa arti dari kata "kafir" dan "berhala" pun adalah suatu bahasa yang mengandung unsur filosofi yang sesungguhnya membutuhkan Kecerdasan dalam mengkaji arti yang sebenarnya dari kedua kata tersebut.. ("kafir" dan "berhala") "*** Makna sesungguhnya arti kata Kafir ***
Kata "Kafir" adalah suatu bahasa filosofi yang jika diselami maka sesungguhnya makna dari kata "kafir" adalah "jahat". Contoh orang kafir adalah orang-orang yang sekarang ini berada di penjara, para pembunuh, perampok, penipu, pencuri, koruptor, dll..
Seluruh ajaran Tuhan melalui agama-agama'Nya senantiasa mengajarkan kita nilai luhur akan Kebaikan, Kejujuran dan Kedamaian, maka jelas'lah para penjahat itu adalah orang-orang "kafir" yang sesungguhnya, orang-orang kafir adalah orang yang senantiasa menampikkan ajaran-ajaran Tuhan, orang-orang kafir adalah orang-orang yang melakukan segala sesuatu yang dilarang Tuhan dan tidak menjalankan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan (, yaitu tentang Kebaikan, Kejujuran, dan Kedamaian)..
Dan kita telah berada dalam zaman dimana sudah terbentuknya lembaga-lembaga yang mengatasi orang-orang kafir/jahat tersebut dalam sebuah sistem pemerintahan (contoh : kepolisian, hakim, jaksa, dll). Dan orang kafir/jahat adalah musuh bersama yang bisa terdapat dalam agama apapun juga..
Sangat disayangkan akan ke'bias'an akan makna dari kata ini yang sebegitu bias nya sehingga terkadang membuahkan sentimen-sentimen ke'agama'an yang seharusnya tidak terjadi..
*** Makna sesungguhnya arti kata Berhala ***
Berhala = Benda yang di tuhan kan
Kata "Berhala" adalah suatu bahasa filosof yang membutuhkan pengkajian dalam menterjemahkan makna sesungguhnya. Namun ternyata zaman telah mengarahkan persepsi akan makna kata "berhala" tersebut menjadi sesuatu yang teramat jauh dari maksud sesungguhnya tentang kata tersebut. Bahkan ke-sensitif-an kata ini seolah mengiris hati dan membawa dampak perpecahan bagi umat manusia..
Berhala = Benda yang di tuhan kan = benda yg menjadi tuhan = uang
Berhala = uang (suatu benda yang memiliki daya nilai tukar)
Demi uang, manusia menjadi pembunuh, perampok, penipu, pencuri, koruptor, dll. Demi uang seolah manusia kehilangan sisi kemanusiaannya. Demi uang seolah kita rela berbuat apa saja sekotor apapun, serendah apapun. Demi uang kita berani melanggar segala peraturan Tuhan tentang Kebaikan, Kejujuran, dan Kedamaian. Dan para "penyembah berhala" bisa terdapat dalam agama apapun juga.
Begitupun juga dengan makna akan kalimat "Tuhan tidak beranak dan tiada pula diperanakan", makna sesungguhnya dari kalimat tersebut pun bermuara dan ditujukan kepada uang (benda yang dituhankan/suatu benda yang memiliki daya nilai tukar).
Sungguh kita harus lebih cerdas dari iblis. Iblis dengan segala kelicikan dan tipu dayanya menyusup melalui persepsi-persepsi yang diselewengkan ke-makna-an nya demi memecah belah umat manusia..
Sangat disayangkan akan ke'bias'an akan makna dari kata ini yang sebegitu bias nya sehingga terkadang membuahkan sentimen-sentimen ke'agama'an yang seharusnya tidak terjadi..
Sungguh hanya iblis'lah yang sangat membenci Kedamaian yang tegak di "surga" Bumi ini. Dan mengalahkan iblis bukan'lah dengan jalan kekerasan, hanya dengan Kecerdasan dan Kedamaian kita akan menang telak dari iblis, karena sejatinya kita (manusia) makhluk terkasih Tuhan yang diutus Tuhan untuk mengajak iblis kembali kejalan'Nya, namun dalam perjalanannya justru lebih banyak manusia yang tergoda oleh iblis..
Lalu temanku bertanya : " Bagaimana dengan kisah para Nabi dan Rasul tentang mereka yang menghancurkan berhala? Bukankah itu berarti batu berbentuk Tuhan yang dihancurkan oleh para Nabi dan Rasul? "
Dan aku menjawab : " Tidak! Persepsi itu sungguh kekeliruan besar! Lalu bagaimana dengan agama Islam sendiri yang terlihat seolah-olah kita mem-berhala-kan Ka'bah? Lalu apakah Tuhan kita adalah bangunan kotak tersebut? Lalu apakah kita (Islam) pun termasuk agama yang menyembah berhala? Lalu bagaimana jika kitapun di judge sebagai agama penyembah berhala? Sesungguhnya tidak ada agama apapun yang menyembah batu sebagai Tuhan. Persepsi itu hanya tercipta karena kita tidak mendalami benar tentang ajaran mereka, sama seperti jika mereka melihat kita sedang menyembah Ka'bah, namun kita paham benar bahwa bukan'lah Ka'bah itu yang kita sembah melainkan terdapat nilai-nilai luhur dibalik ritual tersebut.
Tentang "kisah para Nabi dan Rasul yang menghancurkan berhala" sesungguhnya yang dilakukan para Nabi dan Rasul adalah mereka menghancurkan kuasa materi (uang) yang telah membutakan nurani manusia akan Keserakahan. Sungguh zaman itu sedang terulang kembali di zaman ini. Bahkan karena uang (Keserakahan) alam kita pun telah terporak-poranda'kan.. "Astagfirullah..
Semoga saja tulisan ini dibaca banyak orang agar sejatinya kita semua kembali kepada hakekat kita sebagai manusia sejati yang hanya bertuhan kepada Tuhan dan bukan bertuhan kepada materi (uang)..
Dan aku tidak mengatakan bahwa kita harus membenci uang, tetapi jangan sampai akal sehat kita dikuasai oleh benda mati tersebut. Manusia'lah yang mempunyai kuasa atas uang, dan bukan uang yang mempunyai kuasa atas kita..
Sungguh aku sangat meminta bantuan kepada para sahabatku dan para pembaca yang juga adalah sahabatku untuk menyebar luaskan bacaan ini, demi mengembalikan bumi ini menjadi "surga pertama" bagi kita umat manusia, karena sesungguhnya Tuhan Sang Pengasih Maha Penyayang sejatinya menciptakan manusia agar terlahir ke "surga" dan mati ke surga, namun dalam perjalanannya manusia'lah yang menciptakan neraka Keserakahan bagi dirinya sendiri..
Subhannallah..
Bagi beberapa orang mungkin sepertinya bacaan diatas membutuhkan konsentrasi tinggi dalam pemahamannya, bahkan tidak mustahil mendapat penolakan dari banyak pihak, namun jika telah mendapatkan sudut pandang yang tepat (akan bacaan diatas) maka sesungguhnya prinsip dasar ke-Maha Adil-an Tuhan akan tercermin dengan sebenar-benar'Nya..
Sekali lagi aku katakan, Tentu saja kita semua setuju dengan prinsip dasar sifat Tuhan manakala mendengar
Tuhan adalah Sang Maha Adil
Selama ini kita hanya terbentur oleh "persepsi peradaban" yang tidak mengira bahwa Keadilan Tuhan berada jauh diatas alam nalar manusia. Karenanya
"toleransi" saja tidak cukup, kita harus saling mencintai.. Subhannallah..